Sebuah merek bisa saja populer sangat dikenal di mata konsumen, tetapi belum tentu dipercaya, dipilih, apalagi direkomendasikan pelanggan.
Banyak perusahaan menganggap brand awareness menjadi signal bahwa aktivitas pemasaran yang mereka lakukan sudah berhasil. Seperti merek dikenal, iklan muncul di berbagai kanal, dan media sosial terus aktif.
Ada satu hal yang sering terlupakan, seberapa kuat posisi merek tersebut di mata pelanggan dibandingkan kompetitor. Di sinilah brand awareness perlu dipahami lebih jauh.
Brand awareness adalah kemampuan konsumen untuk mengenali atau mengingat sebuah merek ketika berhadapan dengan kategori produk atau jasa tertentu. Sederhananya, ketika membutuhkan suatu produk, merek apa yang pertama kali muncul di benak pelanggan. Meski demikian penting untuk dipahami, awareness bukan sekadar soal dikenal.
Baca Juga : Strategi Meningkatkan Branding Produk FMCG di Tengah Persaingan Harga
4 Tingkatan Brand Awarness
Di pembahasan kali ini kita akan membahas 4 tingkatan brand awarness, di mulai dari yang tingkatan paling rendah hingga yang paling tinggi.
1. Unaware of Brand
Di tingkat Unaware of Brand, konsumen belum mengenal merek. Tantangan yang dihadapi perusahaan harus mampu membangun keberadaan dan membuat pasar mengetahui bahwa merek tersebut ada.
2.Brand Recognition
Di tahap Brand Recognition ini konsumen sudah mulai mengenali nama, logo, kemasan, atau identitas sebuah merek. Meski bisa mengenali, konsumen belum tentu mengingat merek tersebut ketika membutuhkan produk.
3. Brand Recall
Pada tahap Brand Recall konsumen sudah mampu menyebutkan sebuah merek ketika ditanya mengenai produk dalam kategori tertentu tanpa bantuan visual.
4. Top of Mind Awareness
Top of Mind Awareness adalah tingkat awareness yang paling tinggi. Di sini sebuah merek menjadi salah satu nama pertama yang muncul di benak konsumen saat memikirkan kategori produk tertentu.
Mengetahui posisi brand awareness ini penting, sebab strategi yang dijalankan untuk setiap tahap tidak sama. Saat masih berada pada tahap unaware, perusahaan perlu memperbesar visibility melalui komunikasi yang konsisten dan relevan.
Pada tahap recognition, identitas merek harus semakin mudah dikenali. Ketika sudah mencapai recall, komunikasi perlu membangun asosiasi yang lebih kuat dengan kebutuhan pelanggan.
Sementara untuk mencapai top of mind, merek harus terus hadir, relevan, dan memberikan pengalaman yang membuat pelanggan punya alasan untuk memilihnya.
Nah, ditingkat ini perusahaan harus mengetahui, “Seberapa kuat merek saya berada di benak dan pengalaman pelanggan”.
Cara Beerka Research Meningkatkan Brand Awareness Perusahaan Anda
Di beberapa kasus, klaim pemasaran dari perusahaan, sering dipertanyakan konsumen. Perusahaan sering mengatakan bahwa “Produk kami yang terbaik”, “Pelanggan kami paling puas.” dan “Merek kami paling dipercaya.”
Klaim seperti itu sah-sah saja dalam komunikasi pemasaran. Harap disadari saat ini konsumen modern makin cerdas, mereka membutuhkan bukti yang diklaim merek tersebut. Mereka tidak hanya ingin mendengar apa yang dikatakan perusahaan, mereka juga ingin mengetahui bagaimana pasar menilai merek tersebut. Di sinilah pengakuan independen menjadi penting.
Saat sebuah merek memperoleh pengakuan berdasarkan pengukuran pihak ketiga yang independen dan menggunakan parameter yang teruji, kredibilitasnya mendapatkan tambahan pembuktian.
Salah satu bentuk validasi tersebut adalah IBCSA (Indonesia Best Customer Satisfaction Award) yang diselenggarakan oleh Majalah SWA bersama Beerka Research. IBCSA menggunakan parameter 4C, yaitu Customer, Cost, Communication, dan Convenience. Keempat parameter ini melihat pengalaman pelanggan secara lebih menyeluruh, sehingga penilaian tidak berhenti pada apakah sebuah merek dikenal atau dibeli.
Customer: Merek Memberikan Solusi
Tujuan pelanggan membeli produk karena mereka memiliki kebutuhan atau masalah yang ingin diselesaikan.
Customer pun akan menilai, Â sejauh mana produk atau layanan yang ditawarkan mampu memenuhi kebutuhan pelanggan. Apakah manfaatnya sesuai harapan? Apakah kualitasnya menjawab kebutuhan? Apakah pelanggan merasa mendapatkan solusi yang benar-benar mereka cari? Merek yang kuat bukan hanya pandai menjual produk, tetapi mampu membuktikan relevansinya bagi pelanggan.
Cost: Sebanding dengan Manfaat
Pelanggan tidak selalu mencari harga termurah. Mereka mencari nilai yang sepadan dengan pengorbanan yang dikeluarkan.
Cost melihat bagaimana pelanggan menilai pengorbanan tersebut dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh. Pengorbanan bukan hanya harga, tetapi juga waktu, tenaga, biaya tambahan, dan risiko yang mungkin dirasakan.
Karena itu, produk dengan harga lebih tinggi tetap dapat dipilih jika pelanggan merasa nilai yang diterima sepadan.
Communication:Â Merek Mampu Berkomunikasi
Produk bagus bisa kehilangan pelanggan jika komunikasinya buruk. Communication itu menilai bagaimana perusahaan menyampaikan informasi, menjawab kebutuhan pelanggan, menangani pertanyaan maupun keluhan, serta membangun hubungan dengan konsumennya.
Komunikasi bukan berarti seberapa sering merek beriklan. Lebih dari itu apakah pesan yang disampaikan relevan, mudah dipahami, konsisten, dan mampu membangun kepercayaan pelanggan.
Convenience:Â Memudahkan Pelanggan
Pelanggan semakin menghargai kemudahan. Convenience berarti seberapa mudah pelanggan mendapatkan, membeli, mengakses, menggunakan produk, maupun memperoleh layanan dari sebuah merek.
Produk bagus tetapi sulit ditemukan bisa ditinggalkan. Harga menarik tetapi proses pembeliannya rumit juga dapat membuat pelanggan berpindah. Semakin kecil hambatan yang dirasakan pelanggan, semakin besar peluang mereka melanjutkan perjalanan bersama sebuah merek.
Keempat parameter tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap. Customer menilai manfaat, Cost membandingkan nilai pengorbanan, Communication terkait kualitas hubungan, sedangkan Convenience melihat kemudahan yang dirasakan pelanggan.
Dari Awareness Menuju Advocacy
Perusahaan perlu memandang brand awareness sebagai sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Merek yang dikenal tetapi tidak dipilih belum tentu kuat. Merek yang dipilih tetapi mudah ditinggalkan kompetitor juga masih memiliki banyak pekerjaan rumah.
Tujuan akhir brand awareness sebenarnya membangun hubungan yang lebih kuat hingga pelanggan bersedia merekomendasikan merek tersebut kepada orang lain, Itulah yang di sebut Brand Advocacy.
Perjalanan Brand Advocacy dapat dimulai dari tidak dikenal, dikenali, diingat, menjadi top of mind, dipilih, dipercaya, hingga direkomendasikan. Setiap tahap membutuhkan strategi dan bukti yang berbeda.
Perusahaan pun perlu mengukurnya, Di sinilah riset memiliki peran penting. Beerka Research membantu perusahaan memahami posisi mereknya melalui data dan suara pelanggan. Melalui riset brand, customer satisfaction, customer experience, hingga benchmarking terhadap kompetitor. Perusahaan dapat mengetahui bagaimana merek mereka dipersepsikan oleh pasar, bukan sekadar bagaimana perusahaan ingin dipersepsikan.
Beerka Research juga membantu perusahaan melihat apakah persepsi positif tersebut benar-benar memiliki dasar yang kuat melalui pengukuran dan validasi independen. Salah satunya melalui program IBCSA (Indonesia Best Customer Satisfaction Award), yang menggunakan parameter 4C: Customer, Cost, Communication, dan Convenience untuk melihat pengalaman dan kepuasan pelanggan secara lebih menyeluruh.


