Perubahan besar sedang terjadi dalam cara konsumen berbelanja. Jika dulu pelanggan harus mencari sendiri (search) produk yang diinginkan melalui kolom pencarian, kini mereka semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mewujudkan niat belanja mereka (intent). Tren ini dikenal sebagai Agentic Commerce, yaitu penggunaan AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu mengambil tindakan atas nama pengguna.
Data yang disampaikan Amazon Rufus menunjukkan penggunaan Agentic AI mampu meningkatkan peluang terjadinya transaksi hingga 60%. Bagi pelaku ritel di Indonesia, perkembangan ini menjadi peluang besar untuk mengintegrasikan layanan pelanggan berbasis AI ke dalam platform sosial media yang sudah akrab digunakan masyarakat, seperti WhatsApp dan social messing lainnya.
AI dapat membantu pelanggan melakukan pemesanan ulang, melacak pengiriman, memberikan rekomendasi produk, hingga menyelesaikan transaksi secara otomatis. Dengan demikian, asisten digital tidak lagi berfungsi sebagai chatbot pasif, tetapi berubah menjadi mesin pendapatan yang aktif dan produktif.
Dari Pencarian Tradisional ke “Intent-Based Shopping”
Selama dua dekade terakhir, pengalaman belanja digital didominasi oleh bilah pencarian (search bar). Namun, laporan laba terbaru dari raksasa ritel menunjukkan bahwa era ini mulai memudar. Walmart telah meluncurkan Sparky, asisten digital yang bertransformasi dari sekadar alat pencarian tradisional menjadi asisten bertenaga AI yang memahami konteks kehidupan pelanggan. Sparky dirancang untuk memiliki kemampuan “agentic” yang mampu merencanakan belanja, mengelola re-order, hingga memproses retur secara mandiri.
Langkah serupa diambil oleh Amazon melalui asisten AI mereka, Rufus. Data menunjukkan bahwa Rufus telah digunakan oleh 250 juta pelanggan tahun ini, di mana pengguna Rufus memiliki kemungkinan 60% lebih besar untuk menyelesaikan pembelian dibandingkan pembelanja tradisional. Hal ini membuktikan bahwa asisten AI mampu memotong hambatan psikologis dalam berbelanja dengan memberikan jawaban yang presisi dan mempermudah proses pengambilan keputusan.
Mengapa Agentic AI Berbeda dengan Chatbot Biasa?

Perbedaan utama antara chatbot generatif dan Agentic AI terletak pada kemampuannya untuk bertindak. Chatbot umumnya hanya memberikan informasi atau menjawab pertanyaan. Sebaliknya, Agentic AI dapat melanjutkan proses hingga tahap eksekusi.
Contohnya Alexa Plus milik Amazon yang mampu melakukan percakapan belanja secara alami dan mengarahkan pelanggan hingga menyelesaikan transaksi. Amazon melaporkan bahwa frekuensi transaksi yang dihasilkan Alexa Plus mencapai empat kali lebih tinggi dibandingkan versi sebelumnya.
Di sektor bisnis B2B, Salesforce menunjukkan potensi Agentic AI melalui platform Agentforce. Perusahaan ritel besar di Amerika Latin seperti Falabella memanfaatkannya untuk menjawab pertanyaan pelanggan yang paling sering muncul, seperti “Di mana pesanan saya?”. Melalui integrasi dengan WhatsApp, sistem AI dapat memeriksa status pengiriman, memberikan informasi yang dibutuhkan pelanggan, dan menyelesaikan masalah logistik tanpa campur tangan manusia. Pendekatan ini berhasil meningkatkan efisiensi layanan sekaligus memperbesar nilai bisnis yang diperoleh perusahaan.
Personalisasi Sampai ke Tingkat Individu
Salah satu tantangan terbesar ritel modern adalah mengelola data pelanggan yang sangat besar dan tersebar di berbagai platform. AI menawarkan solusi dengan menghadirkan pengalaman yang lebih personal bagi setiap pelanggan.
Alibaba Cloud, misalnya, mengembangkan model AI Qwen yang memungkinkan interaksi belanja berlangsung layaknya percakapan dengan teman. Dalam minggu pertama saat peluncuran ke publik, aplikasi ini telah diunduh lebih dari 10 juta kali. Melalui AI, Alibaba menciptakan pendekatan yang personal, pelanggan bisa berbelanja dengan cara ngobrol seperti kepada teman..
Sementara itu, Costco memanfaatkan AI untuk mengelola inventaris farmasi. Sistem ini mampu membandingkan harga dari berbagai pemasok sekaligus memprediksi kebutuhan stok secara otomatis. Hasilnya, tingkat ketersediaan barang mencapai lebih dari 98%. Di pasar Indonesia yang sangat kompetitif, kemampuan menjaga stok tetap tersedia dapat menjadi faktor pembeda antara keuntungan dan kerugian.
Keamanan Menjadi Kunci Kepercayaan
Meski menawarkan banyak manfaat, penggunaan AI untuk melakukan transaksi otomatis masih menghadapi tantangan besar, yaitu kepercayaan. Pertanyaan yang sering muncul adalah siapa yang bertanggung jawab jika AI melakukan kesalahan saat bertransaksi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Mastercard dan Visa mulai membangun infrastruktur yang mendukung ekonomi berbasis agen AI. Mastercard memperkenalkan Mastercard Agent Pay, sebuah protokol yang dirancang untuk memastikan transaksi yang dilakukan AI tetap aman dan terkontrol. Hal yang sama juga dilakukan Visa yang mengembangkan Visa Trusted Agent Protocol (VTAP) yang memungkinkan pedagang (merchants) memverifikasi apakah agen AI benar-benar memiliki izin dari pemilik kartu untuk melakukan transaksi.
Kehadiran standar industri ini menjadi fondasi penting agar pelaku ritel lebih percaya diri, tidak ragu, menerima pesanan yang berasal langsung dari asisten digital pelanggan.
Masa Depan Belanja Bersifat Multimodal
Perkembangan Agentic Commerce tidak hanya terbatas pada percakapan berbasis teks. Masa depan belanja digital akan semakin mengandalkan kombinasi suara, gambar, dan video.
Tencent melalui ekosistem Weixin atau WeChat telah mengembangkan fitur pencarian visual yang memungkinkan pengguna memotret sebuah objek, mengenalinya melalui AI, lalu langsung melakukan pembelian melalui Mini Shops. Pengalaman belanja menjadi jauh lebih cepat karena pelanggan tidak perlu lagi mengetik atau mencari produk secara manual.
Strategi serupa dapat diterapkan di Indonesia, terutama bagi ritel yang memiliki basis pelanggan besar di media sosial. AI dapat menganalisis konten yang ditonton pengguna di video pendek atau siaran langsung(live streaming, kemudian memberikan rekomendasi produk yang sesuai secara otomatis.
Sebelum mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam sistem penjualan, penting bagi pelaku usaha untuk menyelaraskannya dengan strategi pengelolaan omnichannel dan otomatisasi logistik ritel modern
Strategi Implementasi bagi Ritel Indonesia
Melihat perkembangan yang terjadi di tingkat global, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan pelaku ritel di Indonesia.:
1. Integrasi AI ke WhatsApp (Social Commerce)
Retail di Indonesia harus mengintegrasikan AI dengan WhatsApp sebagai kanal utama social commerce. WhatsApp tidak lagi hanya digunakan untuk layanan pelanggan manual, tetapi juga dapat menjadi sarana otomatis untuk melacak pesanan, mengecek ketersediaan stok, dan menjawab pertanyaan pelanggan secara real time. Contoh sukses Falabella di Amerika Latin menunjukkan bahwa konsumen lebih suka mendapatkan jawaban instan via WhatsApp daripada harus membuka aplikasi ritel yang berat.
2. Gunakan AI untuk Menghilangkan “Hambatan Klik”
Memanfaatkan AI untuk menghilangkan hambatan dalam proses pencarian produk (seperti Amazon Rufus). AI dapat membantu pelanggan menemukan barang yang sesuai dengan kebutuhan spesifik tanpa harus melalui proses filter yang rumit. Misalnya, pelanggan cukup meminta rekomendasi hadiah ulang tahun untuk anak berusia lima tahun dengan anggaran tertentu, dan AI langsung menampilkan pilihan yang relevan.
3. Otomasi Inventaris dan Rantai Pasok
Jangan hanya fokus pada AI yang bisa digunakan konsumen. Gunakan juga AI untuk memprediksi kapan barang akan habis dan lakukan pemesanan otomatis ke supplier, meniru model Costco. Di Indonesia, ini sangat krusial untuk ritel yang menjual sembako (bahan kebutuhan pokok), menghindari kerugian akibat barang kedaluwarsa atau stok kosong.
4. Menerapkan Personalisasi Proaktif
Retailer dapat meniru pendekatan Walmart Chile melalui fitur Carrito Listo yang dapat memprediksi daftar belanja rutin pelanggan, kemudian mengirimkan pengingat untuk melakukan pembelian ulang. Model ini sangat sesuai dengan pola belanja masyarakat Indonesia yang cenderung membeli kebutuhan rumah tangga secara berkala.
Agentic AI bukan lagi tentang “keren-kerenan” teknologi, melainkan tentang efisiensi waktu konsumen. Retailer yang berhasil membuang durasi 10 menit waktu pencarian pelanggan dan mengubahnya menjadi 10 detik konfirmasi dari asisten AI akan menjadi pemenang pasar di 2026.

Sumber :
- Laporan Laba Walmart Q3 FY2026
- Webcast Amazon Q2-Q3 2025
- Transcript Salesforce FQ1 2026
- Analisis Strategis Mastercard & Visa Q2-Q4 2025
- Laporan Kinerja Tencent & Alibaba 2025
- Webcast Costco Q3 2025

