Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran 5%. Konsumsi rumah tangga kembali menjadi tulang punggung, dengan kontribusi lebih dari 50% terhadap PDB. Secara tahunan, konsumsi tumbuh sekitar 4% dan menyumbang andil pertumbuhan sekitar 2,6%. Dari sisi makro, angka ini terlihat positif dan memberi kesan ekonomi masih berjalan dengan baik.
DATA terbaru 2025 (triwulan III 2025): pertumbuhan ekonomi 5,04%. Kontribusi Konsumsi rumah tangga 53,14% terhadap PDB.
- Konsumsi Rumah Tangga: Penopang utama, tumbuh 4,89% (yoy) dan berkontribusi 53,14% terhadap PDB, didorong oleh aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
- Ekspor Barang dan Jasa: Kinerja positif, tumbuh 9,91% (yoy) sejalan permintaan mitra dagang.
- Investasi (PMTB): Tumbuh 5,04% (yoy), sejalan realisasi penanaman modal.
- Konsumsi Pemerintah: Tumbuh 5,49% (yoy) karena akselerasi belanja.
Konsumsi LNPRT (Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga): Tumbuh 4,28% (yoy).
Namun, realitas di level konsumen—terutama kelas menengah urban—tidak sesederhana itu. Di balik mal yang terlihat ramai, banyak pengunjung datang hanya untuk berjalan-jalan, bukan berbelanja. Peningkatan penggunaan pinjaman daring (Pindar), dan melambatnya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Terutama dari nasabah perorangan menjadi indikator kuat adanya tekanan ekonomi di masyarakat. Konsumsi memang tumbuh, tetapi lebih bersifat nominal. Pengeluaran meningkat, bukan karena masyarakat membeli lebih banyak, melainkan karena biaya hidup semakin mahal.
Di sinilah paradoksnya. Ekonomi bergerak karena konsumsi, tetapi konsumen tidak sedang merasa lapang. Mereka tetap belanja, bukan untuk ekspansi, melainkan untuk bertahan.
Perilaku konsumsi masyarakat pun berubah. Konsumen semakin selektif, lebih rasional, dan jauh lebih berhitung. Setiap keputusan pengeluaran dipikirkan dua kali. Prioritas bergeser ke kebutuhan esensial. Belanja impulsif ditekan. Sensitivitas terhadap harga meningkat.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran 5%. Konsumsi rumah tangga kembali menjadi tulang punggung, dengan kontribusi lebih dari 50% terhadap PDB. Secara tahunan, konsumsi tumbuh sekitar 4% dan menyumbang andil pertumbuhan sekitar 2,6%. Dari sisi makro, angka ini terlihat positif dan memberi kesan ekonomi masih berjalan dengan baik.
Namun, realitas di level konsumen—terutama kelas menengah urban—tidak sesederhana itu. Di balik mal yang terlihat ramai, banyak pengunjung datang hanya untuk berjalan-jalan, bukan berbelanja. Peningkatan penggunaan pinjaman daring (pindar), serta melambatnya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan—terutama dari nasabah perorangan—menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi di masyarakat semakin terasa.
Konsumsi memang tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut lebih bersifat nominal. Pengeluaran meningkat bukan karena masyarakat membeli lebih banyak, melainkan karena biaya hidup yang semakin mahal. Artinya, kenaikan konsumsi tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan daya beli, melainkan penyesuaian terhadap harga dan biaya yang terus naik.
Di sinilah paradoksnya. Ekonomi bergerak karena konsumsi tetap berlangsung, tetapi konsumen tidak sedang merasa lapang. Mereka tetap belanja, bukan untuk ekspansi, melainkan untuk bertahan.
Secara struktural, biaya hidup di perkotaan meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Pengeluaran rutin seperti hunian, transportasi, dan kebutuhan harian menyerap porsi anggaran yang semakin besar. Kondisi ini mendorong konsumen urban menyesuaikan cara mereka membelanjakan uang—bukan dengan menghentikan konsumsi, tetapi dengan mengubah pendekatannya.
Perilaku konsumsi masyarakat pun berubah. Konsumen semakin selektif, lebih rasional, dan jauh lebih berhitung. Setiap keputusan pengeluaran dipikirkan dua kali. Prioritas bergeser ke kebutuhan esensial, belanja impulsif ditekan, dan sensitivitas terhadap harga meningkat.
Konsumen menjadi lebih “smart” bukan karena daya beli menguat, tetapi karena tekanan memaksa mereka mengelola keuangan dengan lebih disiplin. Tekanan hidup urban melahirkan kesadaran baru: konsumen semakin menghargai stabilitas, kejelasan nilai, dan solusi yang memberi rasa aman. Keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari inilah yang perlahan membentuk pola besar dalam perilaku ekonomi perkotaan.
Pola ini mencerminkan bentuk konsumsi yang bertahan. Konsumsi tetap berjalan, tetapi dengan intensi yang lebih jelas dan prioritas yang lebih sempit. Pola ini pula yang menjelaskan mengapa konsumsi masih menopang pertumbuhan ekonomi, meskipun kondisi finansial individu terasa semakin menekan.
Insight penting dari fenomena ini terletak pada peran perilaku. Bagi individu, fase ini mencerminkan proses pendewasaan dalam mengelola sumber daya yang terbatas. Bagi brand, institusi, dan pembuat kebijakan, fenomena ini membuka ruang untuk membangun relevansi—bukan dengan mendorong konsumsi berlebihan, tetapi dengan memahami realitas hidup masyarakat urban apa adanya.